Untuk lelaki paling manja di rumah ini.
Aku tidak ingin menulis sesuatu yang so sweet padamu, karena
aku tahu kau akan menganggapku sok, sok manis. Aku juga tidak ingin menulis
surat yang membuatmu termehek-mehek, karena tanpa ini pun pada dasarnya kamu
juga sudah cengeng. Tapi kapanpun kamu membaca ini, aku tahu bahwa kamu sudah mencapai
usia yang membuatmu bisa memahami tulisanku tentangmu.
Aku tidak heran ketika kamu mengataiku, “nenek lampir”,
karena mungkin itulah kesan yang kamu dapat pertama kali, sejak kamu balita. Tapi
aku akui, aku sempat membenci kehadiranmu. Karena kehadiranmu membuat semua
perhatian tersedot untukmu. Maklum, sudah 6 tahun aku menjadi ‘anak tunggal’. Lalu
dengan segala kelucuanmu (dulu sih, sekarang enggak) kamu rebut semuanya.
Tak masalah, itu dulu. Sekarang, aku sudah memahami mengapa
kamu berada disini. Karena kehadiranmu,
otomatis menjadikanku seorang kakak. Kakak kandung perempuan yang katamu,
sangat menyebalkan. Tapi percayalah padaku, lebih menyebalkan adik daripada
kakak. Nanti, kamu juga bakal tahu sendiri.
Aku menulis ini, hanya untuk mengatakan ini :
Tolong jadilah hebat lebih hebat daripadaku. jadilah kuat,
lebih kuat dari papa. Jadilah tangguh, lebih tangguh daripada mama. Jadilah kamu,
kamu yang lebih kokoh dan sangar daripada kami.
Mengapa? Mungkin itu yang terlintas di benakmu. Jawabanku singkat,
karena kamu laki-laki. Didikanmu dengan didikanku, benar-benar berbeda, padahal
orang tua kita sama. Aku terbiasa untuk tidak dimanja, sedangkan kau
sebaliknya. Dan jujur saja, hal itu membuatku sedikit khawatir, karena kau bergantung
pada orang lain nantinya. Berhubung kamu
anak laki-laki, itu tidak baik, karena nanti justru kamu yang menjadi tempat
bergantung.
Kamu ingat ketika Bu Risma, walikota Surabaya itu, menasehatimu
ketika kita meminta beliau untuk foto bareng? Beliau berkata,”jaga kakakmu ya ,nak.”
Mendengarnya, aku tertegun. Mengapa kamu yang harus menjagaku? Mengapa bukan
sebaliknya, aku lebih tua daripada kamu kan? Lalu dengan cepat kusadari, karena
kamu laki-laki. Mungkin kamu saat itu tidak mengerti, tapi itu bermakna banyak.
Karena kamu laki-laki, seharusnya kamu memang harus lebih
keras daripadaku, meski tampaknya aku sudah begitu keras. Kamu laki-laki, hal
yang lumrah ketika memang prosesmu harus lebih keras daripada seharusnya. Kamu laki-laki, sewajarnya aku harus
membimbingmu dengan begitu keras, tidak seperti mama yang begitu memanjakanmu. Kamu laki-laki, dek, kamu harus bisa
mempertahankan dirimu dan melindungi apa yang ada dibalikmu.
Dan itulah mengapa aku pernah membentakmu, memarahimu,
mengingatkanmu, bahkan aku pernah melukaimu. Maafkan aku, caraku salah dalam memahamimu,
dalam menuntunmu. Aku hanya tidak ingin kau menjadi sepertiku, karena aku bisa
dibilang percobaan pertama orang tua kita, dan bisa dibilang percobaan pertama ialah
percobaan yang paling banyak mengalami kesalahan. Maafkan aku bila aku masih
belum bisa menjadi teladan yang terbaik, tapi aku berusaha untukmu.
berjuang ya dek, karena sudah selayaknya laki-laki lebih
baik daripada perempuan. Bukan merendah atau apa, tapi kali ini aku
mengizinkanmu, melampaui apapun yang telah aku raih. Karena aku ingin kau lebih
baik daripadaku, bahkan yang terbaik. Terbaik bagi keluarga ini, terbaik untuk
umat ini.
Semangat bermetamorfosa, dek. menjadi laki-laki shalih yang
tangguh, yang dirindukan umat ini. Semoga, dan doaku teriring di setiap perjuanganmu.
regards,
your 'nyebelin' sister
No comments:
Post a Comment