May 09, 2013

untuk lelaki paling manja di seberang kamar


Untuk lelaki paling manja di rumah ini.

Aku tidak ingin menulis sesuatu yang so sweet padamu, karena aku tahu kau akan menganggapku sok, sok manis. Aku juga tidak ingin menulis surat yang membuatmu termehek-mehek, karena tanpa ini pun pada dasarnya kamu juga sudah cengeng. Tapi kapanpun kamu membaca ini, aku tahu bahwa kamu sudah mencapai usia yang membuatmu bisa memahami tulisanku tentangmu.

Aku tidak heran ketika kamu mengataiku, “nenek lampir”, karena mungkin itulah kesan yang kamu dapat pertama kali, sejak kamu balita. Tapi aku akui, aku sempat membenci kehadiranmu. Karena kehadiranmu membuat semua perhatian tersedot untukmu. Maklum, sudah 6 tahun aku menjadi ‘anak tunggal’. Lalu dengan segala kelucuanmu (dulu sih, sekarang enggak) kamu rebut semuanya.

Tak masalah, itu dulu. Sekarang, aku sudah memahami mengapa kamu berada disini.  Karena kehadiranmu, otomatis menjadikanku seorang kakak. Kakak kandung perempuan yang katamu, sangat menyebalkan. Tapi percayalah padaku, lebih menyebalkan adik daripada kakak. Nanti, kamu juga bakal tahu sendiri.

Aku menulis ini, hanya untuk mengatakan ini :

Tolong jadilah hebat lebih hebat daripadaku. jadilah kuat, lebih kuat dari papa. Jadilah tangguh, lebih tangguh daripada mama. Jadilah kamu, kamu yang lebih kokoh dan sangar daripada kami.

Mengapa? Mungkin itu yang terlintas di benakmu. Jawabanku singkat, karena kamu laki-laki. Didikanmu dengan didikanku, benar-benar berbeda, padahal orang tua kita sama. Aku terbiasa untuk tidak dimanja, sedangkan kau sebaliknya. Dan jujur saja, hal itu membuatku sedikit khawatir, karena kau bergantung pada orang lain nantinya.  Berhubung kamu anak laki-laki, itu tidak baik, karena nanti justru kamu yang menjadi tempat bergantung.

Kamu ingat ketika Bu Risma, walikota Surabaya itu, menasehatimu ketika kita meminta beliau untuk foto bareng? Beliau berkata,”jaga kakakmu ya ,nak.” Mendengarnya, aku tertegun. Mengapa kamu yang harus menjagaku? Mengapa bukan sebaliknya, aku lebih tua daripada kamu kan? Lalu dengan cepat kusadari, karena kamu laki-laki. Mungkin kamu saat itu tidak mengerti, tapi itu bermakna banyak.

Karena kamu laki-laki, seharusnya kamu memang harus lebih keras daripadaku, meski tampaknya aku sudah begitu keras. Kamu laki-laki, hal yang lumrah ketika memang prosesmu harus lebih keras daripada seharusnya.  Kamu laki-laki, sewajarnya aku harus membimbingmu dengan begitu keras, tidak seperti mama yang begitu memanjakanmu.  Kamu laki-laki, dek, kamu harus bisa mempertahankan dirimu dan melindungi apa yang ada dibalikmu.  

Dan itulah mengapa aku pernah membentakmu, memarahimu, mengingatkanmu, bahkan aku pernah melukaimu.  Maafkan aku, caraku salah dalam memahamimu, dalam menuntunmu. Aku hanya tidak ingin kau menjadi sepertiku, karena aku bisa dibilang percobaan pertama orang tua kita, dan bisa dibilang percobaan pertama ialah percobaan yang paling banyak mengalami kesalahan. Maafkan aku bila aku masih belum bisa menjadi teladan yang terbaik, tapi aku berusaha untukmu.

berjuang ya dek, karena sudah selayaknya laki-laki lebih baik daripada perempuan. Bukan merendah atau apa, tapi kali ini aku mengizinkanmu, melampaui apapun yang telah aku raih. Karena aku ingin kau lebih baik daripadaku, bahkan yang terbaik. Terbaik bagi keluarga ini, terbaik untuk umat ini.

Semangat bermetamorfosa, dek. menjadi laki-laki shalih yang tangguh, yang dirindukan umat ini. Semoga, dan doaku teriring di setiap perjuanganmu.

regards,
your 'nyebelin' sister

No comments: