May 08, 2013

"kamu bodoh," katanya dengan tertunduk.
aku menatapnya, berusaha mencerna dua kata yang baru saja dia lontarkan. apa dasarnya berkata begitu?
"aku tidak bodoh, aku hanya tidak ingin mengorbankan yang lain."
"mengapa kamu sebegitu berkorbannya?"
"karena aku tidak ingin semua menjadi berantakan."
"hanya itu?" katanya. "hanya itu???" kali ini dia sudah setengah membentakku.
aku kaget. ekspresinya asing sekali.
"apalagi? aku sudah memutuskan untuk tetap percaya dengannya dan salahkah aku kalau aku berkorban sedikit untuknya?"
"aku ingin tahu mengapa kamu bisa jadi sebodoh ini, orang paling bodoh dan keras kepala yang pernah aku kenal."
aku terdiam. sudah ketiga kalinya dia mengataiku bodoh, bahkan aku tidak tahu apa kebodohanku.
"dalam hal percaya dan rela berkorban, kau bisa jadi orang yang paling bodoh. aku tahu, kau sulit sekali  untuk percaya orang lain, karena sekali kau percaya, sedikit demi sedikit kau akan memercayakan segalanya. itu bagus, tapi juga ceroboh. lihat kau sekarang, kau percaya, dan kau rela untuk berkorban. tak sadarkah kau bahwa kau selalu menjadi korban pada akhirnya?"
aku masih berusaha memahami yang dia katakan. hei, aku hanya berkorban sedikit, lantas apakah itu menjadikanku korban?
"mungkin sekarang sedikit, tapi kau selalu melakukannya. tak ingatkah kau pepatah lama, sedikit akan membukit? kau hanya akan membunuh dirimu sendiri. dalam rela berkorban, tak selamanya kau harus menjadi korban kau tahu?" katanya. seakan kepalaku ini begitu transparan sehingga dia dengan mudah membacanya.

dia menatapku, lalu berdiri, pergi meninggalkanku yang baru saja terbangun.

dia benar, masih ada yang harus aku perbaiki.

No comments: