malam ini, di sekitar rumahku bising sekali.
begitu banyak anak kecil yang bermain tanpa dosa, tak hiraukan para tetangga yang terganggu.
mereka sibuk berlari, tertawa dan berteriak. tak jarang juga ada yang terjatuh dan menangis.
salah satu dari mereka muncul membawa pemantik api, berteriak mengajak "heeeei, aku punya mercon, siapa yang mau maiiin?"
lalu mereka semua berebut.
tak berapa lama, kebisingan bertambah. bukan hanya bertambah tapi menjadi berkali lipat.
dziiiiing.....duar
buum...kretek...kretek...kretek
dzinggg......dar...dar...duaaaar
kembang api, mercon, petasan segala rupa berlomba menampakkan dirinya. Semacam kompetisi, yang paling keras dan paling indah yang menang.
kembang api. bagaimana jadinya bila aku adalah kembang api?
aku hanya berumur sebatang, yang nantinya habis menjadi arang.
Hanya menyala sepuluh detik lalu setelahnya mati tak berkutik
Semarak begitu sebentar karena terbakar.
aku tidak mau jadi kembang api.
yang tersulut dan menyulut lalu meledak bersama.
yang semarak tapi setelah itu terserak.
aku tidak mau sungguh, aku tidak mau.
aku tidak ingin menjadi kembang api.
menghias malam, namun sejatinya kelam.
sisakan asap dan polusi, apanya yang indah?
aku tidak ingin sungguh.
aku hidup disini, memang hanya sebentar.
bahkan sama halnya seperti kembang api yang berumur sekejap.
tapi aku tidak mau semarakku, semangatku hanya ada saat aku disini.
aku tidak ingin kebahagiaan yang pernah tercipta karenaku hilang dalam satu nyala api.
dan aku tidak mau menjadi tidak bermanfaat setelah aku tidak disini.
karena hidup bahagia ialah menjadi kebahagiaan itu sendiri dan menebarkannya, bermanfaat dan berbagi manfaat.
*for my last day being 16ager

No comments:
Post a Comment