bagiku ia hanya angka.
kehadirannya adalah fana. bahkan menurutku tak perlu ada tiup lilin atau confetti bertaburan. apalagi dengan pesta yang begitu meriah. ia hanya angka yang bisu, kenapa pula kau harus seramai itu hanya karena angka ini di hidupmu?
17, bagiku ia hanyalah 17
dua simbol yang toh dia berganti menjadi yang lain pun sama saja, jatah hidup kita berkurang. apabila simbol itu diubah menjadi 20 pun tak ada yang berbeda, wajah juga masih sama. lalu apanya yang manis?
bagiku ia hanyalah 1 dan 7, yang hanya kebetulan berpasangan.
karena tanpa diapun sesungguhnya kita masih hidup, kita masih bernafas. tanpa diapun, sesungguhnya kita masih bisa tertawa. lalu ngapain ribet cari pasangan? bahkan angka 17 pun hanya kebetulan bertemu.
17, bagiku ia hanyalah tanda
sebuah tanda bahwa aku bukan seorang remaja apalagi kanak-kanak. sebuah tanda yang diperlukan hanya untuk bisa mendapat kartu tanda penduduk dan juga SIM. sebuah tanda yang pada akhirnya mengharuskanku menjadi lebih baik dari sebelumnya.
tidak penting hari ini 17 itu mampir atau tidak di hidupku. aku tidak peduli. esensinya tiada, melainkan hanya formalitas. tapi yang terpenting ialah bagaimana aku bisa menjadi diriku sendiri dan menjadi lebih baik dari sebelumnya dari segala sisi setelah ini. menjadi seorang dewasa yang berpikiran luas dan mawas diri. menjadi seorang wanita yang kuat.
saatnya bermuhasabah, dan
bismillah.... kumulai kedewasaanku dengan nama Rabbku.
*oya, terima kasih untukmu, yang mengucapkannya tadi dengan gaya pom-pom. aku ketawa soalnya kamu lucu. tetap seperti itu, tetap seperti tadi, tolong. aku tidak ingin kau bersikap sebegitu formal dihadapanku dan hanya kepadaku. bisa kan?

No comments:
Post a Comment