August 03, 2012

teman formalitas?

teman formalitas.
hari ini, kedua kata itu menggantung di pikiranku dari siang hingga sekarang. sial juga aku, dua kata itu membuatku bertanya-tanya, berpikir dan menerka tak habis-habis.

adakah orang yang berteman karena formalitas?

masri kita kembali sebuah pertanyaan dasar yang akan memulai ini semua.
teman? mengapa kau ingin berteman? mengapa aku berteman?

hanya kebetulan sekelaskah? kebetulan satu sekolahkah? kebetulan satu komplek perumahankah? atau mungkin ada yang bilang, "pertemuan kita adalah takdir yang sudah ditentukan."

tapi kalau kita nggak sekelas, atau kita nggak satu komplek, maukah kamu berteman denganku?
atau mungkin saat kamu tidak butuh apa apa dariku, maukah kamu berteman denganku?
atau mungkin saat tidak apapun yang akan melibatkan aku dan kamu, maukah kau berteman denganku?

kalau kamu mau berarti kamu bukan manusia. kenapa? karena manusia hanya akan membutuhkan manusia lainnya untuk mencukupi kebutuhan dirinya sendiri. egois, itu sifat paling dasar kita. munafik rasanya saat kamu berkata, ini adalah teman sejatiku, tapi kamu tidak butuh apa-apa dalam pertemanan itu. bahkan dalam pertemanan yang hanya  dimulai 'hai, namaku X' tidak akan bisa berjalan tanpa kedua orang itu merasa kesepian atau bosan terlebih dahulu, hingga keduanya saling bercakap. hakikat paling dasar dari pertemanan ialah berbagi-menerima, berkisah-mendengarkan, membutuhkan-mencukupi.

lalu teman formalitas?
kalau menurutku, saat kita berteman harusnya tanpa pretensi, tanpa pura-pura. meski kita tahu-sama-tahu bahwa ada udang dibalik rempeyek. janganlah saat udang sudah didapat lalu malah menghancurkan rempeyek itu.

bagiku teman formalitas itu tidak ada.
teman ya teman. mengapa pakai formalitas?

tapi yang membuatnya tampak sebagai formalitas ialah sikap kita. bagaimana cara kita memperlakukan teman kita atau bahkan mungkin mengklasifikannya. ada yang berkata bahwa si A ini teman dekatku, si B ini teman seperjuangan, si C ini teman hura-hura.
dalam biologi, klasifikasi akan memudahkan kita mempelajari lebih jauh. tapi dalam pertemanan? justru ini akan menjauhkan kita dari mempelajari teman kita. tidak percaya? anggaplah si A ini teman biasamu, dan si B ini adalah sahabatmu, mana yang akan kau sapa terlebih dahulu? mana yang akan kau ajak ngobrol terlebih dahulu?

atau bahkan sikap yang lebih parah? berteman tapi hanya saat butuh. misalnya, aku punya teman X yang biasanya jaraaaaaang banget ngobrol sama aku. tapi suatu hari dia bilang "halo, wi. hari ini cuaca cerah ya? tapi sayang banget nih, cuaca cerah gini tapi jalan macet, boleh nebeng gak?" setelah sampai di tempat tujuan, cuma bilang "terima kasih, duluan ya." lalu pergi begitu saja dan situasi jarang ngobrol pun terjadi lagi. habis manis sepah dibuang.

inilah dia sikap formalitas kita. menomor-duakan esensi dari pertemanan itu sendiri, sekali lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan diri. lebih baik kita berteman dan kita saling mencukupi. mencukupi bukan merampas. lebih baik bersikap adil, menganggap semua teman kita adalah sama, meski aku akui ini cukup sulit. lebih baik lebih baik bersikap jujur, saling memberi tahu apa yang kita butuhkan dari teman kita lalu berusaha memenuhi kebutuhannya juga. lebih baik kembali lagi ke hakikat dasar pertemanan maka kita akan sama-sama meraih hakikat sejati.

karena teman terlalu berharga untuk dijadikan formalitas, karena teman lebih dari sekedar formalitas.
silahkan jadi seseorang yang rugi, bila memang ini alasanmu berteman. karena kau tak lebih dari seonggok daging yang berjalan di muka bumi dan hatimu mati lalu kini dirimu sedang menyusul hatimu yang terbunuh oleh egomu sendiri.

"ketika aku berdiri bagaikan sebuah cermin jernih dihadapanmu, kamu memandang dirimu ke dalam diriku dan melihat bayanganmu. kau berkata 'aku mencintaimu'. tetapi sebenarnya kamu mencintai dirimu sendiri yang ada di dalam diriku." -kahlil gibran.

No comments: