bismillah
sepertinya hari ini pikiranku cerewet sekali dan tanganku mau diajak bekerja sama dengannya untuk mengetikkannya disini. kali ini aku bercerita tentang 4 muslimah bersaudara dan insyaAllah tidak jauh dari postku sebelumnya, sebuah kenangan masa kecilku.
Empat.
dan mereka semua memiliki tinggi yang hampir sama, wajah yang hampir mirip dan sama-sama memiliki kiprah yang luar biasa. mereka bukanlah para dokter, ilmuwan atau sosok hebat yang lainnya. mereka sederhana tapi kadang mereka bisa galak sekali haha. tapi apa yang mereka lakukan InsyaAllah balasannya bisa berupa surga dan itu merupakan sebaik-baik pekerjaan. Ya, mereka adalah para guru mengajiku di balai. sekarang sudah menjadi sebuah taman pemdidikan Quran. TPQ dzurrotul muta'alimin dan alhamdulillah kemarin baru saja milad ke 13.
mereka yang mengajariku bagaimana membaca rangkaian huruf hijaiyah menjadi lancar membaca ayat-ayat Al-Quran. mereka yang membimbingku mengenali hukum tajwid dan fiqih, meski dulu aku tidak pernah memahami.mereka yang pernah berkisah tentang 25 nabi, tentang shahabat dan shahabiyah Rasulullah. mereka yang bahkan tidak segan-segan untuk memukul tanganku apabila aku mulai ceriwis dan menarik perhatian para teman-temanku dengan ocehanku. atau mereka yang juga dengan sadisnya tidak menaikkan level mengajiku saat aku masih membaca Iqro'. bahkan sampai sekarang aku masih ingat halaman yag aku baca dengan mata kaca. dan entah kenapa aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi terhadap kepadaku, teman-temanku dan anak-anak kampung ini apabila mereka tidak ada. mungkin semakin berantakan, semakin nakal atau mungkin tidak mengenal apa itu akidah.
meskipun mereka sangar sekali, mereka baik sekali padaku. aku pernah secara ajaib, nggelundung di tangga dari lantai dua di salah satu masjid di kampung ini dan salah satu dari mereka, kedua yang tertua dari mereka, langsung menolongku serta menenangkan aku yang menangis bukan karena takut cedera serius tapi justru lebih takut dimarahi Mama. pernah juga aku yang saat itu hampir dikeroyok dengan teman-teman ngajiku yang lebih tua dariku karena aku berkelahi dengan salah satu dari mereka, langsung diamankan oleh si urutan ketiga dari 4 bersaudara ini dan dia memarahi mereka yang hampir mengeroyokku dengan dalih aku lebih kecil dr mereka, padahal jelas aku yang salah. atau saat aku dibawa keliling rumah mereka karena saat itu aku dekat sekali dengan si termuda di antara keempat bersaudara ini.
mereka keturunan madura dan inilah mengapa suara mereka menggelegar sekali saat mereka mulai galak atau saat mereka tertawa. mereka semua (atau beberapa ya? aku lupa) lulusan pondok. ah, mereka ialah para akhwat berkerudung lebar yang baru sekarang aku menyadari kehadiran mereka termasuk penting.
sejak aku sudah bisa membaca Al-Quran, aku dengan nakalnya memutuskan berhenti ngaji di TPQ karena lebih suka nonton kartun jam 4 sore. godaan iman yang saat itu dengan sukses membuatku mogok ngaji dan minta diajarin mama aja. sejak saat itu, ukhuwahku dengan 4 bersaudara ini semakin merenggang dan akhirnya aku benar-benar hampir lost connection dengan mereka. apalagi saat aku sudah SMP dan SMA, wuih ketemu keluargaku sendiri aja cuma bisa sabtu-minggu apalagi mereka.
tapi baru saja 2 hari kemarin aku dihempaskan ke masa-masa itu dan kembali bersua dengan mereka karena aku dimintai tolong oleh salah satu tetanggaku untuk menjadi MC acara milad ke 13 TPQ dan isra' miraj.
komentar si urutan kedua dari mereka, "kamu kemana saja?! tak kira kamu itu mondok. tak kira kamu itu masih sekecil dulu. lah ternyata kok udah SMA gini. gitu ya gak pernah ke TPQ atau seenggaknya ketemu gitu." semua itu diucapkan dengan suara menggelegar karena shock dengan kemunculanku setelah kurang lebih 8 tahun menyembunyikan jejak.
well, inilah mereka. 4 perempuan bersaudara yang mengenalkanku pada apa itu Islam saat aku masih kanak-kanak dan aku senang sekali bisa mengenal mereka.
No comments:
Post a Comment