March 24, 2013

percakapan dengan cicak

"tak sadarkah kamu bahwa manusiapun mirip dengan sebagian diri kita?" kata cicak A
"benarkah? apanya yang mirip?" kata cicak B

lalu aku menoleh, terganggu oleh suara berisik mereka.

"apa yang sedang kalian bicarakan?"
"kita...bukankah kita mirip?"kata mereka.
"maksudnya?"
"mirip...bukan berarti sama, juga tak serupa. cuma mirip." kata cicak A
"apanya yang mirip? kalian bisa merayap di tembok, sedangkan aku tidak."
"bukan...tapi kau juga memiliki sesuatu yang mirip dengan kami." kata cicak B
"apa? autotomi? aku tidak punya ekor."

"kau memang tidak punya ekor...tapi kau punya hati."
"apa hubungannya sama autotomi?"
"kami, bangsa cicak, bisa menumbuhkan kembali ekor kami yang putus. kalian? juga memiliki kemampuan yang mirip dengan kami." kata cicak A
"benar, kalian memilikinya...ingatkah saat kau merasa tertekan? apa yang kau rasakan?"
"sesak."
"nah itu tandanya, sebagian ruang dari hatimu juga sedang hancur. mirip seperti ekor kami yang putus. makanya kamu menjadi sesak, padahal sama sekali tak ada yang menghimpitmu. kamu hanya kekurangan ruang dalam hatimu." kata cicak B

"benarkah? lalu?"
"lalu...sekali lagi, mirip dengan kami...manusia sepertimu, memiliki kemampuan untuk membangun ruang hatinya lagi. utuh sama seperti dulu. mirip seperti ekor kami yang tumbuh kembali. tetapi bedanya, ekor kami tidak berisi  keyakinan dan perasaan apapun, sama sekali. sedangkan ruang hatimu penuh dengan itu."

"dan yang harus kau ketahui ialah, membangun ruang hati mungkin mudah, yang sulit ialah mengisinya dengan perasaan-perasaan itu. agar ruang itu kuat, sebaiknya isi saja dengan perasaan positif karena ia akan menguatkan tiang harapan. sehingga ruang hatimu tidak gampang hancur."

"baiklah...tapi aku heran, mengapa harus cicak  yang bisa berkata seperti ini?"

"karena cicak lebih banyak mengamati darpada manusia."

aku terdiam, menatap mereka berdua merayap pergi.

No comments: