Sedikit cerita, kemarin aku pergi ke kolam renang. Tentu saja, bukan aku sendiri. Tapi banyak juga teman-teman seangkatanku dan juga anak kelas sebelas. Kami, yang kelas dua belas, pergi kesana cuma untuk latihan sebelum ujian praktek.
sebenarnya, ga sreg juga dengan kondisi kolam yang seperti itu, ditambah lagi banyak cowok yang...ya gitu deh pada nyiulin. Risih? Banget. Apalagi pakaian renang itu super ketat. Malu? Banget. Emang enak ngumbar bentuk badan ke semua orang? Mau berbentuk atau enggak itu badan, yang namanya diliatin juga siapa sih yang rela? Namanya juga aurat.
Tapi...ternyata enggak semua orang berpikir seperti itu. Terutama yang berjilbab. Dan kenyataan yang ada sudah membuatku miris.
Saat aku sudah masuk ke kolam dan sempurna basah, aku melihat mereka yang berjilbab masuk ke kolam tanpa jilbabnya. Tidak semua memang, sebagian. Saat itu aku hanya melongo.
Bingung dengan apa yang aku lihat. Bertanya-tanya di dalam hati. Ada apa dengan kalian?
Aku diam, melihat sekeliling. Masya Allah.
Bukan bermaksud untuk gimana rek, tapi maaf, kalian itu sudah berjilbab. Kenapa harus dilepas saat kalian nyemplung ke kolam? Mau gimanapun yang namanya kolam renang umum ya tetap umum. Enggak peduli kita renangnya pisah sama cowok atau enggak. Guru olahraga kita juga ada yang cowok. Meskipun mereka guru, yang namanya nafsu itu masih ada. Apalagi yang bukan guru kita.
Saat kutanya beberapa, alasan yang ada juga tidak begitu kuat untuk bisa mentoleransi kalian melepas jilbab. Aku tau, rasanya memang tidak nyaman. Kupingku aja mendadak tuli karena kemasukan air. Tapi rek, kalian pilih mana? Berkompromi dengan rasa tidak nyaman itu atau menanggung dosa yang entah bagaimana beratnya?
Itu aurat rek, relakah kalian dinikmati oleh segitu banyak mata? Pakaian kita udah ketat, bahkan ada juga yang sedikit terawang. Ngapain pula harus pake lepas jilbab? biar totalitas gitu?
Kalian itu contoh rek buat para saudari kita yang belum berjilbab. Apalagi yang juga sudah kelas XII, "mbak, mbak, enggak malu ta sama adek adeknya?" malu rek, atau perlukah kalian kenalan lagi dengan rasa malu?
Khilaf, aku tau kalian khilaf. Tapi tolong, jangan diulangi lagi ya ukhti? Kewajiban, dimana mana tetap wajib hukumnya. Tidak ada keringanan atau toleransi. Orang yang dewasa tentu tau dimana dia memposisikan dirinya. Jaga diri ya ukhti, kalian terlalu berharga untuk sekedar dijadikan hiasan mata.
No comments:
Post a Comment