kau dengar? di pagi hari cerah seperti ini tiba-tiba ada gemuruh yang terdengar.
kusibak tiraiku dan melihat ke luar sana.
cerah, sungguh cuacanya cerah. tapi gemuruh itu?
ah, bodohnya aku. gemuruh itu berasal dari dalam sini.
kau tidak mendengarnya? padahal gemuruh itu terdengar cukup keras. apalagi setelah aku membuka dan membaca berlembar-lembar pengakuan masa laluku. menjijikan, sungguh aku ingin rasanya membakar semua itu. tapi tidak kulakukan, karena bagaimanapun juga itu potongan hidupku. memang berantakan dan aku pernah seberantakan itu.
yah pengakuan-pengakuan disana semakin membuat batinku menggila. kalau misalnya batinku ini orang, mungkin dia sudah menggalang massa, beramai-ramai berdemo di depan rumahku. menuntut tentang apa yang telah kulakukan selama ini. menyiksanya yang harusnya patut sekali berbahagia.
padahal yang kulakukan hanya menyimpan sepenggal rasa ini. salahkah? pertanyaan klasik itu terlontar lagi, meskipun aku sudah menemukan jawabnya. menyimpannya selama ini. bahkan aku sama sekali tak menyangka bahwa semua ini bisa bertahan. estimasiku salah, kau tahu? gampang saja bilang sudah hilang, tapi nyatanya juga masih ada. kebodohan yang nyata.
kebodohan yang mengakibatkan luka menganga. padahal itu karena otak batuku saja yang begitu kerasnya. tidak mempercayai apa yang dilihat dan didengarnya. atau mungkin juga karena hatiku yang dengan tololnya masih berharap. lihat, sekarang otak, hati, dan batinku tengah bertikai hebat. bergumul, saling sepak saling tendang. saling menyalahkan. siapa terdakwanya? kemungkinan besar sih aku. aku yang sama sekali tidak bisa bersikap dewasa dalam menghadapi ini semua dan membuat pilihan.
tapi kali ini, setelah sekian lama menanti dan berharap cemas. aku, lagi-lagi kalah dalam meja judi. taruhan untuk hatimu. dan konsekuensinya, luka itu tertoreh.
dan saat luka itu memerah darah, aku menyesal. bukan karena aku kalah dalam perjudian itu. tapi aku menyesal karena tidak bisa menjaga hatiku sendiri. aku memang tidak perlu meminta maaf kepadamu, untuk apa? aku tidak bisa disalahkan olehmu. tapi aku harus meminta maaf pada hatiku, pada batinku, pada diriku sendiri dan pada Kekasihku. meminta maaf untuk hadirnya sepenggal rasa yang harusnya tidak usah ada. untuk menancapnya rindu yang berbisa, yang telah meracuni hati dan pikiran serta membunuh batinku. ya, aku memang salah karena telah memihak si pengkhianat dan mengacuhkan suara mereka. maafkan aku, kini tak perlu lagi kalian mengaduh pilu.
ya, kau paham sekarang? gemuruh tadi ialah gemuruh sesal, setelah selama ini ia terkurung. kali ini dia mengamuk membabi buta, mengeluarkan hawa negatif dari dalam tubuhku. tak apa, itu sah saja. toh setelah gemuruh hilang yang datang ialah pelangi. seperti kata ibu kartini itu bukan?
kali ini aku akan belajar lalu membuat benteng yang lebih kuat dari sebelumnya. tidak akan pernah lagi tertembus mata-mata si pengkhianat. hanya terbuka apabila nanti ada seorang utusan yang datang dan mengetuk pintu bentengku. mengetuk sopan, bukan menerobosnya paksa.
bukan menerobosnya paksa, seperti saat ombak rasa itu menghancurkan pertahananku.
kali ini itu yang terakhir. tidak lagi. tidak akan.
sekian.
No comments:
Post a Comment