June 08, 2012

sederhana


bismillah...
“Bahagia itu sederhana.”
Sebuah tweet ini, entah lupa siapa yang mengetiknya tiba-tiba saja menjadi sebuah pertanyaan di pikiranku. Sesederhana apa ?

Bahagia ? yang kupelajari dari bahagia ialah saat kau bisa merasa tanpa ada beban. Bebas lepas tanpa adanya kepura-puraan. Eh ? Bahagia, kapan terakhir kali aku bahagia ? mengapa banyak orang merasa tidak bahagia ? kalau bahagia itu sederhana, lantas mengapa ada yang bilang bahagia itu tak terdefinisi ? Lalu kuamati sekelilingku dan aku mengerti mengapa bahagia itu sederhana.

Bahagia itu sederhana. Tanpa ada syarat atau harga yang ditetapkan untuknya. Tanpa harus dicari atau bahkan ditelusuri. Tanpa ada sebuah alasan yang mengikat, bahkan tidak untuk tempat dan waktu. Happiness is everytime and everywhere !

Hai Bahagia, mengapa banyak orang merasa tidak memilikimu ?

Karena mereka terpaku pada kata pertama di awal kalimat ini. Tidak percaya ? bahkan aku sendiri terkadang masih terpaku pada kata itu. Akhirnya aku paham, saat kita mengucapkan ‘karena’ di atas kebahagiaan kita, sama saja kita mengkhianati kebahagiaan itu sendiri. Bahagia ialah suatu unsur murni kehidupan, tanpa syarat, tanpa harus adanya suatu indikasi.

Saat kita berkata “aku bahagia karena…” sama saja kita membatasi kebahagiaan kita. Contohnya, saat aku berkata “aku bahagia karena hari ini cerah.”. seakan akan kalau misalnya hari ini hujan maka aku tidak bahagia, begitu ? lucu sekali. 

Bahagia itu sesederhana aku di segala kesederhanaanku. sesederhana saat aku masih bisa tertawa di tengah kerasnya dunia atau mungkin peliknya problema. sesederhana saat aku mememenangkan suatu kompetisi. Bahagia itu sesederhana saat aku mendapat hadiah dari orang lain. sesederhana saat aku mendapat nilai bagus atau sekedar tidak remidi.  sesederhana ketika aku jatuh cinta dan duniaku mendadak warna-warni. sesederhana saat aku bertemu dengan orang orang yang kau sayangi. sesederhana saat aku bersujud kepadaNya dan merasakan damai yang amat sangat. Bahkan, Bahagia itu sesederhana saat kau menarik kedua ujung bibirmu, membentuk lengkungan indah bernama senyuman di wajahmu.
Sebahagia itu masih sesederhana bahagia.
Inilah mengapa bahagia tidak terdefinisi. Tidak pasti. Memangnya kau bisa menghitung bahagia ? you do the math then !

Ah sudahlah, ini bahagiaku, apa bahagiamu ? :)

 

No comments: