bismillah...
“Bahagia itu sederhana.”
Sebuah tweet ini, entah lupa siapa yang mengetiknya
tiba-tiba saja menjadi sebuah pertanyaan di pikiranku. Sesederhana apa ?
Bahagia ? yang kupelajari dari bahagia ialah saat kau bisa merasa
tanpa ada beban. Bebas lepas tanpa adanya kepura-puraan. Eh ? Bahagia, kapan terakhir
kali aku bahagia ? mengapa banyak orang merasa tidak bahagia ? kalau bahagia
itu sederhana, lantas mengapa ada yang bilang bahagia itu tak terdefinisi ? Lalu
kuamati sekelilingku dan aku mengerti mengapa bahagia itu sederhana.
Bahagia itu sederhana. Tanpa ada syarat atau harga yang
ditetapkan untuknya. Tanpa harus dicari atau bahkan ditelusuri. Tanpa ada
sebuah alasan yang mengikat, bahkan tidak untuk tempat dan waktu. Happiness is
everytime and everywhere !
Hai Bahagia, mengapa banyak orang merasa tidak memilikimu ?
Karena mereka terpaku pada kata pertama di awal kalimat ini.
Tidak percaya ? bahkan aku sendiri terkadang masih terpaku pada kata itu. Akhirnya
aku paham, saat kita mengucapkan ‘karena’ di atas kebahagiaan kita, sama saja
kita mengkhianati kebahagiaan itu sendiri. Bahagia ialah suatu unsur murni
kehidupan, tanpa syarat, tanpa harus adanya suatu indikasi.
Saat kita berkata “aku
bahagia karena…” sama saja kita membatasi kebahagiaan kita. Contohnya, saat aku
berkata “aku bahagia karena hari ini cerah.”. seakan akan kalau misalnya hari
ini hujan maka aku tidak bahagia, begitu ? lucu sekali.
Bahagia itu sesederhana aku di segala kesederhanaanku. sesederhana
saat aku masih bisa tertawa di tengah kerasnya dunia atau mungkin peliknya
problema. sesederhana saat aku mememenangkan suatu kompetisi. Bahagia itu
sesederhana saat aku mendapat hadiah dari orang lain. sesederhana saat aku
mendapat nilai bagus atau sekedar tidak remidi. sesederhana ketika aku jatuh cinta dan duniaku
mendadak warna-warni. sesederhana saat aku bertemu dengan orang orang yang kau
sayangi. sesederhana saat aku bersujud kepadaNya dan merasakan damai yang amat
sangat. Bahkan, Bahagia itu sesederhana saat kau menarik kedua ujung bibirmu,
membentuk lengkungan indah bernama senyuman di wajahmu.
Sebahagia itu masih sesederhana bahagia.
Inilah mengapa bahagia tidak terdefinisi. Tidak pasti. Memangnya
kau bisa menghitung bahagia ? you do the math then !
Ah sudahlah, ini bahagiaku, apa bahagiamu ? :)
No comments:
Post a Comment