"aku kan sudah bilang kelulusan itu pasti" -Rahma Aziza
harusnya aku tahu, harusnya aku sudah siap.
saat melihat mereka, menyiapkan diri mereka untuk menghadapi ujian nasional. saat melihat mereka mondar mandir di depan lab untuk ujian praktik. dan saat mereka berkata "siapa yang akan menggantikan kami ?"
harusnya aku tahu lebih awal, bahwa tak selamanya mereka disini.
membimbing kami, mengenalkan pada apa itu amanah dan apa itu kontribusi.
sebenarnya aku sudah tahu, bahwa mereka juga akan tiba di gerbang kelulusan. tapi mengapa aku masih berkata 'harusnya' ? mungkin selama ini aku tidak sepenuhnya tersadarkan.
hari itu, Kamis, 12 April 2012
aku masih belum sadar ketika speaker itu memanggil para smalane untuk berkumpul di lapangan utara. untuk apa ? aku benar benar sepenuhnya lupa. tapi aku menurut dan bergabung ke dalam barisan. kenapa lama sekali ? keluhku saat itu.
lalu tiba tiba, barisan kelas 12 merangsek maju, bersalam salaman dengan para guru. dan bodohnya saat itu aku baru ngeh. astaga, ini semacam acara perpisahan.
dan satu demi satu mbak mas pun berjajar jajar. rasanya ? antara senang, sedih, nyesek, bercampur haru.
aduh, kenapa harus sekarang ? kau pikir aku tega melepas mereka ? masih banyak yang perlu aku tanyakan pada mereka. kenapa disaat seperti ini ?
"wi, kamu ngapain di barisan kelas XI 9 ?" tanya annisa rochma yang membuyarkan lamunanku.
"aku nyasar eh. barisanku endi yo ?"
aku kembali di barisanku, dan entah kenapa tatapanku berganti semacam tatapan sedih
lalu, entah dimulai darimana, aku mulai bersalam salaman dan peluk pelukan dengan mbak mbak, dan hanya mengatupkan tangan lalu bilang "semangat" kepada mas mas.
yang aku ingat...orang yang pertama kali aku peluk, mbak meutia.
"aku enggak percaya kalo mentalmu lemah" entah kenapa kata kata darinya ini muncul saat memeluknya.
lalu mbak mas genku, memberi mereka senyum dan berkata semangat meski aku berusaha keras menahan sedih. betapa mereka baiiiiiik sekali membimbing adek gennya ini, apalagi kalau ada event event. pasti seru.
lanjut ke mbak mas yang lain. mbak maaaaaass, semangaat yaaa, semoga sukses, kata kata itu terus saja mengalir dari bibirku.
lalu aku bertemu mbak mifta. dia langsung saja memelukku. orang yang selalu saja mempressingku entah itu LDKMS atau PERISAI. hahaha. dan ajaibnya dia berkata "dek, titip SKI ya.". aku cuma tersenyum, bingung mau menjawab apa. mbaaak kenapa titipanmu berat sekali ?
berturut turut, mbak vessa yang pasti tak cubit pipinya, mbak bestari yang meluk aku ditambah bonus tepuk pundak yang lumayan.
lanjut~
padahal tahun lalu aku sama sekali tidak merasakan apa itu kehilangan, bahkan lebih mudah membiarkan mbak mas yang sebelumnnya. tapi mengapa tahun ini begitu berbeda ?
peluk, salaman, bilang "semangat"
gitu terus sampai ketemu mbak fida.
orang ini udah berkaca kaca waktu liat aku. yang bisa aku baca dari matanya, dek, gantiin aku ya.aku jadi ikutan berkaca kaca. trus aku peluk mbak fida. "semangat ya mbak, semoga sukses, tak doain kok." kataku sambil memeluknya. tes, mati aku, kok jadi aku yang nangis sih ?
lalu ketemu mbak atul, yang masih sempet nanya, "lho dek tiwi kenapa nangis ?" oalah, mbak, sampeyan pura pura gak tau atau menguatkan ini ? yang aku paling inget dari mbak PK ku ini adalah orang yang bikin aku nangis di PERISAI 2010 padahal aku gak dibentak bentak, cuma di kasi kata motivasi. lak yo zz --"
lalu ketemu mbak Dinda, orang yang menurutku sangat melankolis dan aku paling gak tahan menghadapi segala sifat perfeksionisnya. aku bilang "semangat ya mbak melan" tapi dia bilang gini "lho, sekarang yang melan siapa ? aku yang melan kok kamu yang nangis ?"
ah, siapa yang menduga kalau sanguinis bisa seperti ini ? aku aja nggak mengira mbak.
aku masih menyusuri barisan mbak mas, menatap wajah mereka satu satu *kecuali mas mas ya, gak boleh.
mbak mas, terima kasih ya. semoga dibalas olehNya, dibalas menjadi hasil indah perjuangan kalian.
melihat sekilas mas vicky, mas wira, mas adam, mas rian, dan mas mas yang lain.
lalu aku bertemu, mbak mitha, dia bilang "lama gak ketemu ya". kata kata itu membuatku ingin sekali berkata "anda bercanda ? bentar lagi kita pisah lebih lama mbak."
lalu sahabatku, Ratih. kenapa lulus duluan ? aku sendirian di smala kalo kamu lulus. tega ya. aku memeluknya, agak lama. "kamu...semangat ya, aku doain kamu darisini, jaga diri ya, aku bakal kangen kamu." wetseh, sudah semacam drama -,- padahal yo gara gara iki, aku tambah gak kuat buat gak nangis.
tambah lama tambah sedih dan haru.
aku masih nyari 1 orang yang pengen banget aku peluk.
tapi ternyata dia ada di ujung barisan, menutup setengah wajahnya dengan kain kerudung.
semakin dekat, aku tau kalau dia menangis. mbak obay, langsung aku peluk. "mbak, semangat yaa." kataku saat itu. aku lepas pelukanku, satu air mata jatuh dari matanya, lalu aku mengusapnya padahal aku juga setengah mati menahan agar tangisku tak semakin hebat.
lalu...aku menyadari, barisan itu sudah habis..rasanya begitu pendek. dan orang yang pertama kali aku peluk dan setengah kutubruk setelah keluar dari barisan "salaman" adalah Rahma. aku langsung menangis sesenggukan di pundaknya.
sakit, aku tidak mengerti tapi ini sakit. sakitnya di dalam, mirip seperti patah hati. tapi masalahnya aku patah hati untuk 300 orang yang sebentar lagi meninggalkan almamater ini.
kau tahu rasanya hampa ? seperti ada sesuatu yang ditarik paksa.
ah sudahlah, aku mengusap kedua mataku untuk menghilangkan jejak tangisku. hidup harus berjalan bukan ? begitu juga mereka. aku tidak mungkin mengahalangi mereka untuk tetap tinggal disini, mereka juga ingin meraih masa depan mereka. tangisku mereda dan kini berganti keikhlasan yang amat sangat untuk melepas mereka dan berdoa untuk mereka. aku tersenyum, melihat barisan 'salaman' itu sekali lagi.
| barisan 'salaman' di lapangan utara |
mbak mas terima kasih,
karena telah memperkenalkan kami kepada smala, mengajarkan kepada kami arti perjuangan dan kekeluargaan, membimbing kami saat kami merasa lemah menjalankan berbagai amanah.
terima kasih,
karena sesungguhnya tanpa kalian kami tidak akan seperti ini, meski tidak sekokoh kalian, tapi setidaknya kami masih mampu untuk berdiri tegap demi menggantikan para mbak mas.
terima kasih,
karena telah begitu banyak menghadirkan kehangatan di sebuah gedung bernama smala ini, meniupkan kebahagiaan di setiap generasi dan memberikan senyuman di setiap sapaan.
mbak mas,
aku akan merindukan kalian,
tetaplah berjuang dan semoga mbak mas bisa meraih hasil indah atas apa yang telah kalian perjuangkan dan kalian kontribusikan selama ini. semoga balasanNya lebih cemerlang. amin.
terima kasih mbak mas :))
#tributeto mbak mas
No comments:
Post a Comment