apa kabar untuk sekeping hati ini ?
yang mungkin tersimpan rapi
dalam peti bernama Malu
yang tak izinkanku bersuara
memberi tahu apa yang ada di dalamnya
"kau tahu apa bedanya diam dan membisu ?"
aku menggeleng.
"saat kau diam kau hanya berkata dalam pikiranmu padahal kau punya suara, sedangkan saat kau membisu, kau tidak punya suara, dan kau berusaha untuk tidak memikirkan apapun yang akan membuatmu ingin bersuara. dan untuk kasusmu yang satu ini, aku lebih memilih membisu daripada harus berkutat dengan suara suara di kepalaku yang toh nyatanya juga tidak akan keluar."
"lantas ? apa hubungannya dengan aku ?"
"bukannya sudah kubilang ? ini kasusmu. bukan milikku. kalau kau memang ingin diam, ya silahkan. tapi ingat, kadang diam itu hanya bom waktu. suatu saat kau juga pasti jejeritan. mau seperti itu ?"
"kalau aku membisu, berarti itu sama saja aku pura pura tidak kenal atau menghindari saja, bukannya itu semakin menyiksa ?"
"tadi aku bilang apa ? berusaha tidak memikirkan...tidak selamanya berarti menghindar, kau tahu ? kalau memang usahamu tadi sudah mentok, ya sudah. kamu jadi memikirkannya kan. cuma tidak akan terlalu sering seperti sekarang. itu sisi baiknya. "
"hmm, kenapa segala sasuatu harus ada sisi baik dan buruknya ?"
"hmm, kau ini konyol atau bodoh ? pertanyaanmu sama saja menanyakan 'mengapa ada surga dan neraka ?' kalau soal itu, bahkan manusia paling bijak pun tidak akan pernah memberikan jawaban yang memuaskan. jawaban dari pertanyaan itu pasti nanti juga akan kembali pada Allah yang Maha Tahu. sudahlah, berisik, kalau kau bertanya lagi, kapan kau akan memutuskan ?"
"astaga, kapan lidahmu itu tumpul ?"
"nanti kalau seluruh dunia sepakat kalau sarkasme tidak diperlukan bahkan untuk marah sekalipun"

No comments:
Post a Comment