November 08, 2011

tentang hujan :)

seolah awan sedang berkomplot hari ini, 

seolah  mereka saling memanggil awan yang lainnya. 

bergumpal, menjadi satu. 

semakin lama semakin pekat, gelap.

mendung...

dan pada akhirnya mereka sepakat,

membuang semua beban mereka.

Tes ! satu tetes turun ke bumi, 

menyapa mesra tanah yang kering dan dedaunan.

semakin lama menjadi rintik.

awan menghabiskan beban mereka

sementara rintik hujan bercumbu

kontras tapi juga merupakan kombinasi yang sempurna.

rintik gerimis datang dengan anggun.

tapi entah kenapa keanggunannya

membuat semua kalang kabut.

mendadak semua orang berlarian. Takut basah.

lalu semua mendadak buram. chaos. blur

tiba tiba semua terasa seperti cermin.

etalase toko, jalan raya, lapangan basket.

indah. dan aku suka

buatku melihat ke dalam isi kepalaku.

Tenggelam sementara dalam pikiranku dan kenanganku.

Menuangkan segala inspirasiku.

Mengusir segala gelisah.

Self meditation paling ampuh     

Hingga saat beban awan telah hilang

Saat itu juga bebanku hilang

Dan rinduku juga terpuaskan.

Seperti hakikat hujan itu sendiri.

---------------------------------------------------------------------------------------------

seolah awan sedang berkomplot hari ini, 
seolah  mereka saling memanggil awan yang lainnya. 
bergumpal, menjadi satu. 
semakin lama semakin pekat, gelap.
mendung...

"yah, mendung"

"gimana nih gak bisa pulang ntar"



semua orang mengeluh. tapi si gadis tidak peduli.

dia tetap terpaku pada layar monitor komputer dan memegang gitar. acuh. sesekali menanggapi  request temannya untuk memainkan lagu. selebihnya ? ia tetap bernyanyi dan tidak peduli.

tapi setela itu dia bosan. menguap.

bangkit, meletakkan gitar, lalu berjalan keluar kelas. tetap tidak peduli dengan sekelilingnya.

di balkon kelasnya, dia melihat ke arah lurus nun jauh disana. melamun. sepertinya dia sedang gelisah kali ini.

sesekali dia bersenandung dan tetap memandang ke arah lurus sana.



hmm, aku....rindu



apa ? dia menggumamkan sesuatu. sekarang bukan hanya gelisah ternyata tapi juga galau. dasar si gadis !



ya, aku rindu...aku merindukan dia.



dia menundukkan kepala. lalu kembali menatap ke arah lurus. lagi lagi.  katanya dia sedang rindu. dasar anak muda. tapi sorot matanya, selain mengatakan bahwa dia sedang rindu, kini dia juga sedang menunggu. menunggu apa ?



dan pada akhirnya mereka sepakat,

membuang semua beban mereka.

Tes ! satu tetes turun ke bumi, 

menyapa mesra tanah yang kering dan dedaunan.

semakin lama menjadi rintik.



si gadis masih bertengger disana. tetapi, lihatlah ! dia tersenyum. meski masih nampak gelisah, dia tetap saja tersenyum. tapi tersenyum pada siapa ? atau apa yang membuatnya tersenyum ?


akhirnya jatuh juga ya ? tik tik tik, lagu alam paling damai. aku suka bunyinya, bau atap basah, semuanya bersinergi. awan menghabiskan beban mereka. sementara rintik hujan bercumbu. kontras tapi juga merupakan kombinasi yang sempurna.


astaga, dia seoalh berbicara pada gerimis diluar sana, sambil sesekali menyiratkan air hujan ke wajahnya, sepertinya dia sangat menikmati kesejukannya. dia seperti bermain tapi juga mesra. seolah olah, dia telah melepas salah satu rindunya. rindunya pada hujan.

tunggu, salah satu kataku ? ternyata masih ada yang lain. sementara itu, dia kembali melamun. tatapannya kosong sekarang. sedang memikirkan apa dia ?



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



aku masih tetap diam, memandang lurus ke arah sana. aku memang merindukan dia, setelah hari ini aku tidak melihatnya sama sekali. tapi aku juga rindu sesuatu yang lain. tapi apa itu ?



rintik gerimis datang dengan anggun.

tapi entah kenapa keanggunannya

membuat semua kalang kabut.



aku tersenyum. ternyata inilah salah satu yang kurindukan. hujan. rinduku selain dia. aku tidak habis pikir. kenapa mendadak semua riuh saat hujan datang ? mendadak semua orang berlarian. lucu. padahal ini cuma air. mungkin hanya membuat basah.kenapa orang orang ini takut basah ? padahal seru banget kalo hujan gini. sementara pikiranku seperti itu, tanganku bermain dengan air hujan.

akhirnya jatuh juga ya ? tik tik tik, lagu alam paling damai. aku suka bunyinya, bau atap basah, semuanya bersinergi. awan menghabiskan beban mereka. sementara rintik hujan bercumbu. kontras tapi juga merupakan kombinasi yang sempurna.



semakin lama semakin banyak yang jatuh. satu, dua, tiga, empat, lebih dari empat. tak terhitung jumlahnya. kurang kerjaan sekali menghitung ini semua. tapi aku menikmatinya. semua jadi terasa begitu berbeda.



lalu semua mendadak buram. chaos. blur

tiba tiba semua terasa seperti cermin.

etalase toko, jalan raya, lapangan basket.



chaos, buram, blur. semua terasa seperti itu. karena kali ini perhatianku tersedot sepenuhnya untuk hujan. yang lain ? aku tidak peduli. Lalu melihat sekeliling. Yang aku lihat dimana mana seperti melihat cermin raksasa yang melapisi bumi. Semua kegiatan diatasnya terpantul di cermin itu. Lihat saja etalase took, jalan raya, atau mungkin lapangan basket ini ? tergenangi air dan memantulkan semuanya. Semua. Entah itu kepalsuan. Entah itu kejujuran. Entah itu suci atau kotor. Tak terkecuali aku.


indah. dan aku suka

buatku melihat ke dalam isi kepalaku.

Tenggelam sementara dalam pikiranku dan kenanganku.


Aku suka. Suka sekali dengan hujan. Karena ini semua. Sangat suka. Aku cinta. Semakin lama buatku melamun, kembali ke masa lalu sejenak. Dan tiba tiba kenangan kenangan itu berkelebatan, mengisi ruang kepalaku. 


“eh, HUJAN !”

Aku menoleh ke arah jendela kelasku. Benar, hujan deras dan aku suka. Hujan perdana di kelas XI ini. Lagi lagi chaos. Meski terhalang tirai tapi aku masih bisa melihatnya.

“eh, buka aja dong gordennya, biar keliatan hujannya.” Kata dia tiba tiba. Dan tiraipun terbuka.

Aku menoleh padanya, memandangnya dengan penuh Tanya. Kenapa kamu tiba tiba suka hujan ? batinku bertanya.


Kenangan itu, saat hujan


“semangat ya, masih ada kok yang diperjuangkan.” Kataku pada dia

“hahaha, enggak apa apa kok, orientasiku lho bukan itu,” jawabnya.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya, dia membalas senyumku.bahagia, entah kenapa. Tapi aku juga bangga padanya. Entah perasaan apa ini aku belum memahami. Dan tanpa aku sadari, akupun berdoa untuknya. Selalu.

Ah, kenangan itu, setelah sidang umum. Kelas X. Lalu kenangan itu berganti lagi.

“ya Ampun wi, kapan lagi kita bisa gila gilaan kayak gini ?” kata Ratih, sahabatku.

“enggak tau, pokoknya kita hujan hujan aja dulu, belum tentu taun depan kita kayak gini kan ? hahahaha” kataku sambil tetap berlari.

“hahahaha, gokil, aku gak pernah lho kayak gini sebelumnya. Paling ntar dimarahi mama”

“ah, anak mama banget sih ! manja ! gak inget kalo udah kelas 9 ?

Tiba tiba Ratih terbatuk batuk. Aku tidak kuasa. Segera saja kita berteduh sambil menunggu jemputan bersama sama.


Kenangan yang satu itu, membuatku miris. Hatiku sedikit nyeri. Hmm, iya, aku juga merindukan sahabatku satu ini. Sejak SMA ini, kita jarang sekali bersama. Hmm, ternyata ucapanku saat hujan itu menjadi seperti ini. Kenangan itu terus berlanjut.


“Wi ?”

“hmm ?” kataku sambil menoleh ke seseorang specialku.

“kamu percaya sama aku ?”

“kenapa Tanya begitu ?”

“semudah itu ? padahal kamu nggak gampang percaya kan orangnya ? trus kenapa kamu percaya sama aku ?”

Aku hanya menatap tidak mengerti pada seseorangku ini. Pertanyaan yang seharusnya dia sudah tau jawabannya. Kenapa demikian ? aku hanya tersenyum padanya dan mengalihkan topic pembicaraan. Saat itu, gedung SMPku sudah sepi. Teman seangkatanku sudah padaa pulang, dasar anak kelas 8. Gerimis, masih gerimis. Hmm, lebih baik kita turun ya ? latihan basket sudah mau mulai.


Aku tersenyum saat kenangan itu muncul. Aku nakal sekali dulu. Alhamdulillah, aku tidak seperti itu sekarang. Aku berubah jauh lebih baik. Tapi bukankah karena dia juga aku tahu apa itu cinta pertama ? ah, sudahlah, tetap saja semua itu salah kan ? kenangan itu berganti.


“lho eh, hujan !”

Tiba tiba semua berlarian, tidak ingin basah, laagi lagi. Sedangkan aku juga ikut berlari, bukan untuk melindungi diri sendiri, tapi laptopku.

“hah, lain kali kalo latian cheerliar di Indoor aja” kata Denisa

“ngaco, mana ada yang punya ?” kata Ajeng

Aku hanya cekikikan melihat mereka. Tapi kenapa ada yang kurang ? aku mengingat ingat, tas udah, dompet udah, laptop udah, apa lagi ? hape ?

Aku merogoh saku rokku. Astaghfirullah, hapeku enggak ada ! aku ingat, aku menaruhnya tergeletak tertutup tas kresek hitam di skate park. Tanpa ulur waktu, aku berlari sprint kesana. Di tengah hujan deras. Akupun mencari sesampainya disana. Ketemu ! masih utuh, enggak basah. Astaga, aku sadar bahwa posisiku saat itu bersimpuh ala sinetron di bawah hujan. Untung enggak pake nangis.


Konyol. Kenapa aku begitu ceroboh ? ah, cheerliar. Kebersamaan itu, semua kekonyolan itu. Semua itu… dan juga tentang dia lagi…lucu.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------



Tampaknya si gadis tenggelam terlalu lama dalam lamunannya. Tapi kali ini dia terbangun. Matanya terfokus pada objek di bawah sana. Ooh, ternyata tercintanya sudah kembali dari berteempur. Lihat, dia tersenyum lagi. Bagaimana tidak bahagia bila yang kau rindu datang ?

Tapi dia tetap di balkon sana, tidak menghampiri, masih memandang dari jauh.

Masih belum boleh, nanti ya, ada saatnya, bila Tuhan mengizinkan.

Sang tercintanya, setengah berlari, takut basah. Mengambil kuda besinya dari kandang dan menungganginya. Tidak sadar bahwa si gadis memperhatikannya sambil berdoa. Entah apa doanya. Si gadis tetap memperhatikan tercintanya hingga tercintanya menghilang bersama kuda besinya di tikungan. Si gadis menghela nafasnya, kelihatannya sedikit lega karena rindunya sedikit terpuaskan. Tidak lama kemudian, si gadis menyandang tas sekolahnya dan berjalan gontai ke arah kandang kuda besinya, menungganginya dan melesat pergi.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Menuangkan segala inspirasiku.

Mengusir segala gelisah.


Yah, dia pulang. Terus aku ngapain disini ? hmm, hujan hujan aja deh, sambil nyetir pulang. Aku berjalan ke parkiran dan mengambil motorku. Kuda besi dan kandang. Haha, password SSKI dulu.

Aku naik ke motorku dan melesat pulang. Sengaja memilih rute panjang, agar bisa hujan hujanan. Bodoh. Kekanak- kanakan. Tapi sekali lagi, aku suka. Aku cinta.

Sambil sesekali melihat jalan, spion dan jalan lagi serta berusaha konsentrasi untuk menyetir, aku masih tenggelam dalam kenanganku. Tapi kali ini, kenangan itu aku ubah menjadi inspirasiku.

Hujan tetap saja tega melihatku berbasah basah ria. Aku juga suka seperti ini. Suka saat rintik menggelitik kulitku. Saat angin menerpa dingin wajahku. Saat air hujan mengecup bibirku dengan tidak sengaja. Aku suka.

Aku sampai pada gang rumahku.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------


nSelf meditation paling ampuh 
    

Dasar si gadis, di jalan masih saja melamun. Sepertinya dia menikmati sekali dan rela hujan mengguyur dirinya. Sepertinya dia memang sengaja seperti itu. Ah, childish, padahal sebentar lagi si gadis bermetamorfosa menjadi wanita.

Bibirnya bergerak seperti menggumamkan sesuatu.  Entah apa. Mungkin bernyanyi, atau berkata pada dirinya sendiri.

Akhirnya si gadis sampai di rumahnya. Meletakkan helmnya dan segera saja dia mandi tak lupa sholat. Dan setelah itu, dia menyalakan laptopnya. little leppy, nama laptop itu.

Hmm, sepertinya, si gadis sudah tidak gelisah sekarang. Katanya hujan itu self meditation-nya yang paling ampuh. Ah, si gadis bisa saja


------------------------------------------------------------------------------------------------------


Hmm, segar sekali rasanya setelah mandi dengan air hangat. Self meditation paling ampuh ya seperti ini, habis diguyur hujan langsung mandi dengan air hangat. Setelah itu menyeduh teh sambil main sama little leppy. Klop !

Aku segera menyalakan laptop dan memasang modem.

Log in ke blog dan menuliskan apa yang aku rasakan hari ini, dan tentang hujan.



Hingga saat beban awan telah hilang

Saat itu juga bebanku hilang

Dan rinduku juga terpuaskan.

Seperti hakikat hujan itu sendiri.



Dan, saat aku telah selesai menuliskan ini semua, hujan sudah reda dari tadi. Aku sudah merasa lega. Karena inilah hujan. Self meditaion paling ampuh.











Multi-styled Text Generator at TextSpace.net

No comments: